TEACH : TAKE HAND, TOUCH HEART, OPEN MIND
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

SEKOLAH UNGGUL 2

PERJALANAN PANJANG KETIDAKUNGGULAN 
DAN KETIDAKKOMPETITIFAN PENDIDIKAN KITA
MENUJU PENYIAPAN
GENERASI UNGGUL DAN KOMPETITIF

Yusuf Wijanarko
E-mail: yusufwijanarko2012@yahoo.co.id, SMP Negeri 2 Pasrujambe, Jl. Lapangan Kebonan, Kertosri, Pasrujambe, Lumajang

Globalisasi yang melanda dunia termasuk Indonesia berlangsung sangat cepat. Globalisasi mengharuskan setiap bangsa membuka diri dalam menghadapi bangsa-bangsa lain. Hal ini menuntut kemampuan sumberdaya manusia unggul dan kompetitif yang mampu mengantisiapasi kemungkinan-kemungkinan yang sedang dan akan terjadi. Salah satu wahana yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan
Pendidikan merupakan pintu utama menuju pengembangan dan peningkatan mutu modal dasar manusia. Pendidikan merupakan institusi yang sangat bertanggung jawab terhadap masa depan suatu bangsa. Institusi pendidikan diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas secara akademik dan moral. Sebab kualitas sumber daya manusia sangat menentukan proses kinerja suatu bangsa. Dengan demikian, perbaikan sistem dan institusi pendidikan menjadi suatu keniscayaan dan sangat signifikan dalam sejarah bangsa.


Hal ini sejalan dengan filsafat pemberdayaan manusia dalam setting organisasi yang dikemukakan oleh Pfeffer (1996) bahwa kompetisi global harus dihadapi dengan meningkatkan kontribusi sumber daya manusia karena pada masa sekarang ini hanya ada satu landasan untuk keunggulan bersaing yang lestari, yaitu bagaimana mengelola faktor sumber daya manusia. Keunggulan yang dicapai melalui pengelolaan sumber daya manusia dapat dijadikan sebagai sumber keunggulan kompetitif.
Agar investasi dalam pengembangan manusia dapat berhasil, kita harus mengatur kembali dunia pendidikan kita. Di tengah kegalauan masyarakat melihat potret buram pendidikan yang juga disertai dengan makin meluasnya keraguan terhadap kinerja lembaga pendidikan, muncul kerinduan terhadap adanya sekolah berderajat tinggi dengan semangat agar bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tingkat internasional.

For complete article DOWNLOAD FREE HERE

WHAT IS e-LEARNING

 E-learning, Why, What, dan How


A.  Why e-learning
Ilmu dan teknologi terutama teknologi informasi berkembang sangat pesat. Pesatnya perkembangan teknologi ini berdampak padaperbagai perubahan sosial budaya. Misalnya e-commerce merupakan perubahan radikal dalam aspek ekonomi masyarakat modern saat ini. Di sektor pemerintahan ada e-government. Demikian pula di sektor pendidikan sudah berkembang apa yang disebut e-learning.
Penemuan internet dianggap sebagai penemuan yang cukup besar, yang mengubah dunia dari bersifat lokal atau regional menjadi global. Karena internet terdapat sumber-sumber informasi dunia yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun melalui jaringan internet. Melalui internet faktor jarak dan waktu sudah tidak menjadi masalah. Dunia seolah-olah menjadi kecil, dan komunikasi menjadi mudah.
Pada paradigma tradisional proses belajar mengajar pada umumnya berlangsung di ruang kelas dan ditandai dengan kehadiran pendidik di muka kelas. Pendidik memiliki tanggungjawab penuh terhadap jalannya proses belajar mengajar dan bisa dianggap sebagai sumberdaya paling penting dari sebuah proses belajar mengajar. Sebaliknya pada paradigma baru, peserta didik harus difasilitasi sesuai kebutuhannya masing-masing. Setiap peserta didik adalah spesifik dan memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-besa. Proses belajar mengajar harus berfokus pada aktifitas ”belajar” dan bukan pada aktifitas ”mengajar” seperti pada paradigma lama. Dengan paradigm seperti ini maka keberadaan pendidik tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penting dalam proses pembelajaran. Keberadaan pendidik bisa digantikan oleh bahan belajar berupa modul, diktat, perangkat lunak edukasi yang bisa digunakan untuk belajar secara mandiri oleh peserta didik.




Setelah kehadiran guru dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia (Khoe Yao Tung ,  2000). Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet.
Penelitian di Amerika Serikat tentang pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk keperluan pendidikan diketahui memberikan dampak positif (Pavlik, 1963)). Studi lainya dilakukan oleh Center for Applied Special Technology (CAST), “bahwa pemanfaatan internet sebagai media pendidikan menunjukan positif terhadap hasil belajar peserta didik)”. Internet sebagai media pendidikan memiliki banyak keunggulan,. Namun tentu saja memiliki kelemahan; seperti yang disampaikan oleh Budi Rahardjo (2002) adalah infrastruktur internet masih terbatas dan mahal, keterbatasan dana, dan budaya baca kita masih lemah. Di sinilah tantangan bagaimana mengembangkan model pembelajaran melalui internet.
For complete article DOWNLOAD FREE HERE

Rabu, 26 Oktober 2011

SEKOLAH UNGGUL 1

LEARNING ORGANIZATION,
MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
OLEH MANUSIA PEMBELAJAR
DI LINGKUNGAN PEMBELAJAR


Yusuf Wijanarko

E-mail: yusufwijanarko2012@yahoo.co.id, SMP Negeri 2 Pasrujambe, Jl. Lapangan Kebonan, Kertosari, Pasrujambe, Lumajang


The low quality of our human resources reflects the low quality of our education system that produces the human resources. We have to reconstruct our educational system. Our educational system we will construct, must be able to build human resources comprehensively, in which the society goes to the learning society and the environment where the society does their activities goes to learning environment. It will be realized by developing Learning Organization. In Learning Organization, the organization supports individuals to keep on learning and enrich their capability as learning society. The actualization of Learning Organization in the learning environment, where all school components interact each other integratedly and each school component functions optimally, so they impulse effectively to the realization of effective school.


Pendidikan merupakan pintu utama menuju pengembangan dan peningkatan mutu modal dasar manusia. Pendidikan merupakan institusi yang sangat bertanggung jawab terhadap masa depan suatu bangsa. Institusi pendidikan diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas secara akademik dan moral.
Kompetisi global harus dihadapi dengan meningkatkan kontribusi sumber daya manusia karena pada masa sekarang ini hanya ada satu landasan untuk keunggulan bersaing yang lestari, yaitu bagaimana mengelola faktor sumber daya manusia.
Agar investasi dalam pengembangan manusia dapat berhasil, kita harus mengatur kembali dunia pendidikan kita. Di tengah kegalauan masyarakat melihat potret buram pendidikan yang juga disertai dengan makin meluasnya keraguan terhadap kinerja lembaga pendidikan, muncul kerinduan terhadap adanya sekolah berderajat tinggi dengan semangat agar bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tingkat internasional.
Seluruh warga sekolah mengemban tugas menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat pembelajar, dan menjadikan lingkungan dimana mereka beraktivitas sebagai lingkungan pembelajar. Masyarakat dan lingkungan pembelajar dimungkinkan akan terwujud dengan dikembangkannya Learning organization, yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Learning organization merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri. Learning organization merupakan proses terus menerus untuk belajar, memperbaiki diri, menuju kesempurnaan, dengan perubahan-perubahan baik dari dalam maupun dari luar untuk mewujudkan sekolah efektif dimana seluruh komponen sekolah berinteraksi satu sama lain secara terpadu dan setiap komponen berfungsi secara optimal. Sekolah harus dipahami sebagai satu kesatuan sistem pendidikan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain.  Dalam Learning organization, organisasi mendorong setiap individu untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya sebagai manusia pembelajar.


For further article DOWNLOAD FREE HERE

GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA 3

guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah … (3)


Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatikubakti guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah bakti kepada anak didik, pembelajaran dan dunia pendidikan.  Bakti yang lebih mengedepankan hati dalam mendidik dan membelajarkan, human touch, (Success without Limits, Dr.Tariq M. As-Suwaidan). HUMAN TOUCH merupakan kepanjangan dari huruf-huruf, yaitu: Hear Him, Understand His Feelings, Motivate His Desire, Appreciate His Effort, News Him, Train Him, Open His Eyes, Understand His Uniqueness, Contact Him dan Honor Him



Hear Him
DENGARKAN DIA
Dengarkan pendapat, keluh kesah, dan masalahnya karena mereka benar-benar layak untuk didengarkan. Pada dasarnya, anak didik kita bukanlah anak yang bodoh, mereka adalah hamba Allah yang terlahir fitrah dan hanif. Jadilah pendengar yang baik karena guru atau orang tua tidak selalu benar dan mengetahui segalanya. Ketika kita mendengarkan mereka, mereka akan berkembang menjadi pribadi yang berani mengungkapkan gagasan dengan penuh percaya diri. Berikutnya mereka juga terdidik untuk mendengarkan orang lain.

Understand His Feelings
PAHAMI PERASAANNYA
Setelah kita mendengarkan, kita pahami perasaan mereka. Dengan memahami, kita akan memasuki relung hati mereka. Ini adalah tahapan dimana kita menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Mereka akan mampu merasakan adanya simpati dan empati kita, sehingga mereka akan merasa nyaman, aman dan kita akan menjadi merindukannya. Berikutnya mereka juga akan menjadi orang yang selalu mencoba memahami orang lain.

Motivate His Desire
DORONG KEINGINANNYA
Setelah memahami perasaan mereka, kita harus mendorong semangat mereka, khusunya ketika mereka mengalami permasalahan dalam kehidupan. Kita bisa  memberikan motivasi kepada mereka hanya ketika kita dianggap sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka. Tugas mulia kita adalah sebagai motivator: membesarkan hati yang lemah, menguatkan keinginan yang mulai pudar, membangun rasa percaya diri yang mulai runtuh.

Appreciate His Efforts
HARGAI UPAYANYA
Hargai kerja keras mereka. Tidak semua orang dapat menghargai kelebihan dan prestasi orang lain. Kecenderungan manusia adalah ingin dihargai dan dipuji. Sulit untuk memuji orang lain, khusunya kepada rekan yang secara struktural dan fungsional setara atau dibawah kita. Kita harus adil untuk memberi penghargaan atas kerja orang lain, betapapun kecilnya. Kita harus belajar menghargai sehingga mereka juga menghargai orang lain.

News Him
KABARKAN PRESTASINYA
Kabarkan, ceritakan, umumkan prestasi mereka dengan bangga. Anak didik kita akan bangga ketika prestasi mereka disampaikan kepada teman-temannya. Hal ini akan merupakan sebuah kehormatan tersendiri jika kebaikan dan prestasi mereka diumumkan. Jangan sampai kita melemahkan semangat mereka hanya karena kita mengabaikan prestasi yang telah mereka raih. Beritakan tentang kebaikan mereka, maka mereka juga akan memberitakan kebaikan kita.

 Train Him
LATIHLAH DIA
Setelah mengumumkan keberhasilan mereka, kita harus melanjutkan untuk melatih kemampuan mereka. Mungkin sebuah prestasi bisa membuat mereka lupa dan kembali melemah, tidak memacu diri lagi untuk terus berprestasi. Kita harus tampil sebagai teman untuk mengingatkan mereka agar terus meningkatkan diri. Termasuk diri kita sendiri, kita mungkin juga mulai merasa tenang karena mereka telah merasa puas dengan prestasi yang telah mereka raih. Biasakan untuk selalu berlatih dan mengasah kemampuan.

Open His Eyes
BUKALAH MATANYA
Bukalah pandangan dan wawasan mereka. Kita jangan sampai menjadikan mereka seperti ‘katak dalam tempurung’ atau ‘jago kandang’ dengan prestasi yang telah mereka raih. Kita harus melatih mereka secara berkelanjutan dan mengantarkan mereka berjalan menembus bagian lain di dunia yang lebih maju dan bersaing. Anak didik kita senang dengan hal-hal baru dan menantang.

Understand His Uniqueness
PAHAMI KEUNIKANNYA
Dibutuhkan hati yang lapang dan hati yang pemurah. Allah SWT telah menganugerahkan pada setiap individu dengan hal-hal yang khusus. Setiap orang adalah pribadi yang unik yang menjadi kelebihan dan kekuatan diri. Setiap anak akan menjadi pribadi dengan potensi yang luar biasa dan berbeda dari yang lain. Perlakuan yang sama pada setiap individu yang berbeda menyangkal keunikan diri. Maka kenali dan pahami keunikan mereka dan mereka akan tumbuh dengan cepat sebagai pribadi yang khusus.

Contact Him
HUBUNGI DIA
Bangun hubungan yang khusus dan intensif dengan mereka. Komunikasi yang intim akan melahirkan hubungan personal yang hangat. Pada dasarnya, setiap anak butuh perhatian yang khusus. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama hanya untuk mendengarkan suara kita yang lembut dan akrab. Sapa kita benar-benar berharga bagi mereka.

Honour Him
HORMATI DIA
Puncak pendidikan dengan hati adalah pemberian sentuhan rasa hormat. Kehormatan hanya dapat dilakukan oleh orang yang terhormat pula. Menghormati anak didik kita akan membuat mereka menjadi pribadi yang bermartabat dan membuat mereka juga menghormati orang lain. Tujuan akhir pendidikan adalah untuk mencetak generasi yang sholeh dan berakhlak mulia karena mereka adalah manusia-manusia yang mulia, insan kamil.










GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA 2

guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah … (2)

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Merujuk kalimat “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru pada bait diatas, guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah pribadi yang terpuji, buah dari konsistensi dan komitmen … .


Sugih tanpa bandha dan Weweh tanpa kelangan
Seorang guru selalu merasa 'kaya' dan tidak merasa 'miskin', meskipun secara manusiawi ia adalah manusia sebagai makhluk materialistis/keduniawian. ‘Kaya’ baginya tidak dinilai dari kekayaan materi, tetapi dari kekayaan hati, kekayaan ilmu. Bahkan kekayaan ilmu seorang guru adalah sugih tanpa handarbeni, kaya tanpa memiliki, karena ilmunya itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi diperuntukkan bagi anak didiknya dalam menunaikan profesi keguruannya, dalam mendidik dan membelajarkan. Ia tidak harus menjaga ‘harta’nya, sebaliknya ‘harta’nya yang akan menjaganya. Ia tidak pernah merasa kehilangan atau berkurang ‘harta’nya, sebaliknya semakin ‘harta’nya diberikan kepada anak didiknya, semakin bertambah dan berkembang ‘harta’ tersebut dalam memberi manfaat bagi anak didiknya. Karena sekalipun memberikan ilmu pada anak didiknya, ilmu itu tidak akan hilang atau susut dari benaknya. Bahkan bertambah karena interaksi belajar dengan anak didiknya. Ia akan selalu member dan menerima.
‘Harta’nya adalah saham, modal, investasi, tabungan, deposito yang memberi manfaat langsung pada masa kekinian dan masa depannya, bagi dirinya sendiri juga bagi anak didiknya. ‘Harta’ yang akan memberi ketentraman hati dan pikiran. Yang akan menjadikannya sebagai orang yang sabar, ikhlas, tenang dalam menghadapi segala persoalan dan senantiasa bersyukur.


Digdaya tanpa aji
Manusia dikatakan digdaya apabila manusia tahan banting, pukulan, bacokan, dsb. Manusia dikatakan digdaya apabila memiliki kesaktian hasil dari melaksanakan 'laku' tertentu. Kesaktian digunakan manusia untuk membela diri atau menyerang apabila terjadi gangguan, ancaman, bahaya, serangan dari luar.
Seorang guru, walaupun tidak tahan bacokan, tidak memiliki kesaktian, tidak memiliki jimat/aji-aji, ia memiliki sifat dan perilaku yang baik, sehingga niscaya terhindar dari gangguan, ancaman, bahaya, serangan dari luar. Hidup bagi dirinya aman dan damai dan bagi orang lain member keamanan dan kedamaian. Tanpa ‘nglakoni’ dan jimat/aji-aji pun seorang guru sudah digdaya.


Nglurug tanpa bala
Seorang guru harus maju ‘perang’, dengan ‘peralatan perang’, sendiri tanpa 'pasukan'. Ia tidak harus sebagai kesatria atau pahlawan, ia hanya berketetapan hati “saya guru, saya harus ke sekolah”. Sekolah adalah medan perang sekaligus ladang amal dan medan jihadnya. Ia berangkat sendiri, membawa seperangkat buku, ilmu dan wawasan dalam otaknya sebagai ‘peralatan perang’ untuk menaklukkan lawan-lawannya, yaitu para anak didik yang siap ditaklukkan, yang menunggu dengan penasaran dan rasa ingin tahu, ilmu baru apa yang akan mereka terima dari sang guru. Bahkan, pada suatu ketika kemanapun seorang guru pergi, ia akan ketemu bekas-bekas anak didiknya. Mereka dimana-mana. Ia tidak akan pernah merasa sendirian, tanpa bala.


Menang tanpa ngasorake dan Landhep tanpa anglarani
Yang kalah tidak merasa dikalahkan, yang menang tidak merasa memenangkan, win win solution. Di kelas, seorang guru kadang ditanya atau didebat anak didiknya tentang kebenaran dalilnya, analisanya, sintesanya, evaluasinya dan verifikasinya. Ia harus dapat menjelaskan, membuktikan, menyampaikan data/fakta/ contoh, memberi argumen logis dan bisa diterima, sehingga anak didik tidak pernah merasa dikalahkan, sebaliknya merasa didampingi, dipandu, diarahkan, dibelajarkan, diberdayakan, didewasakan. Demikian juga bila sanggahan anak didik yang benar, guru tidak merasa malu atau dikalahkan, justru diuntungkan, karena menemukan kekurangannya. Ia menyadari bahwa guru bukan sebagai satu-satunya sumber belajar. Guru membelajarkan dan juga belajar.
Disarikan dari gegebengan RM Pandji Sosrokartono

GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah … (1)

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan pembangun insan cendekia

Mungkin ada yang melupakan bait lirik lagu di atas yang dahulu sering dikumandangkan di sekolah. Mungkin juga ada yang kurang tahu tentang perubahan kalimat terakhir lagu tersebut dari “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa” menjadi “Engkau patriot pahlawan pembangun insan cendekia”. Perubahan lirik untuk memajukan mutu para pendidik ke arah profesionalitas, karena yang dibutuhkan sekarang selalin pengabdian juga profesionalisme.(http://edukasi.kompasiana.com, Rabu, 12 November 2009)

Merujuk kalimat “Guru sebagai pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk dalam kehausan” pada bait diatas, berikut filosofi kepemimpinan masyarakat Jawa, Hasta Brata, yang sesungguhnya juga harus ada pada seorang guru. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa atau pahlawan pembangun insan cendekia, adalah pemimpin bagi para anak didiknya, dengan sikap kepemimpinan pelita, embun, dan … .



1.  Bumi : Tetap dan tidak berubah-ubah
Bumi, wataknya ajeg, tegas, konstan, konsisten, dan apa adanya. Guru harus memiliki konsistensi terhadap apa yang telah dipilihnya untuk menjadi sebuah keputusan.
2.  Angin : Luwes tapi Kuat
Angin ringan bergerak ke mana saja, luwes tetapi kuat menjaga prinsip. Untuk mencapai tujuan banyak jalan yang bisa ditempuh dengan tidak membuat tujuan menjadi kabur. Guru harus terbuka, luwes, kreatif dan inovatif membuat terobosan dan experimen model, metode, teknik, dan pendekatan pembelajaran dengan tidak mengorbankan tujuan pembelajaran.
3.  Matahari : Adil dalam menghidupi
Matahari selalu memberi cahaya dan energi yang merata di seluruh permukaan bumi. Guru harus objektif, tidak cenderung kepada salah satu golongan diantara mereka dan tidak melebihkan seseorang atas yang lain, tidak ada unsur pribadi dalam mendidik dan membelajarkan, terlebih dalam melakukan penilaian kepada anak didiknya.
4.  Air : Sejuk menentramkan
Air menyejukkan dan melepas dahaga. Guru harus bisa penyelesaian masalah, menjadi penengah perselisihan anak didiknya. Keputusan-keputusan yang dihasilkan harus bersifat melindungi, diterima semua pihak.
5.  Bintang /Kartika : Mampu menjadi pengarah
Bintang adalah penunjuk arah yang indah, tidak berpindah sehingga menjadi pedoman arah dalam melangkah. Guru harus mampu menjadi panutan, memberi petunjuk, memberi nasehat dan bimbingan, menjadi tempat bertanya bagi anak didiknya.
6.  Bulan : Terang disaat gelap
Bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan. Guru memberi solusi terhadap pemahaman materi yang sulit, mengatasi kebingunan dan mengurai suasana pembelajaran yang rumit.
7.  Samudra : Luas dan mampu memuat apapun
Samudra luas, menjadi muara dari banyak aliran sungai. Guru harus bersifat lapang dada, sabar dalam menerima banyak masalah dari anak didik, menyikapi keanekaragaman dengan kasih sayang, memiliki pengertian dan menampung segala keluh kesah anak didik. Bahwa setiap kesalahan, kekesalan, ketidakmengertian dari anak didiknya adalah sesuatu yang semestinya dalam sebuah proses belajar. Dalam menciptakan kondisi belajar yang dibutuhkan anak didik, guru harus terbuka, menerima saran dan kritik dari anak didik.
8.  Api : Panas, membakar
Api bersifat membakar. Guru harus memiliki, ketegasan dan kewibawaan dalam mendoronganak didik untuk belajar, bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. Ketegasan dan kewibawaan akan menjadikan seorang guru disegani dan bukan ditakuti oleh anak didiknya. Kewibawaan yang diperoleh atas tutur sapa, sikap dan kepribadiannya.